IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Al-Insyirah Ayat 7

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Al-Insyirah Ayat 7

7 Surah Al-Insyirah Ayat 7 ⬇️
فَاِذَا فَرَغْتَ فَانْصَبْۙ
📘 Cara Baca:
fa iżā faragta fanṣab
Arti Terjemahan Indonesia:
Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain),
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
ف
Maka
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata:
Kedudukan: Ḥarf Isti'nāf
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Huruf Isti'nāf.
Akar Kata: ف
اذا
apabila
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Ẓarf Zamān
Kedudukan: Maf'ūl Fīh / Syarṭ
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Keterangan waktu.
Akar Kata: أ و ذ
فرغت
engkau telah selesai
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Māḍi
Kedudukan: Fi'il Syarṭ
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Fi'il Syarat. Tā' (تَ) Fā'il.
Akar Kata: ف ر غ - أ ن ت
ف
maka
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata:
Kedudukan: Ḥarf Jazā'
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Huruf Balasan (Jawaban dari Syarat).
Akar Kata: ف
انصب
bekerjalah
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Amr
Kedudukan: Fi'il Amr
I'rab & Tanda: Majzum dengan Sukun
Penjelasan: Fi'il Amr. Fa'ilnya Dhomir Mustatir (أنت).
Akar Kata: ن ص ب
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Ma'ani - Amr dan Syarth
Kalimat ini adalah *Amr* (perintah) dalam bentuk *Syarth* (syarat). **فَإِذَا فَرَغْتَ (Fa idzā faraghta/Maka apabila engkau telah selesai)** menjadi syarat bagi perintah **فَانصَبْ (fanṣab/maka bekerjalah dengan keras)**, menekankan pentingnya keberlanjutan ibadah dan kerja keras tanpa henti.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Fa idzaa faraghta fanshab" adalah perintah untuk **berkesinambungan dalam beramal**. Ketika selesai dari salat wajib, kerjakanlah amal lain, seperti salat sunnah, zikir, atau berdoa. Ath-Thabari menafsirkan bahwa ketika Nabi selesai dari dakwah atau jihad, beliau harus bersungguh-sungguh dalam ibadah. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah anjuran untuk **tidak bermalas-malasan** dan mengisi waktu dengan ketaatan. Al-Alusi menguraikan bahwa ini adalah ajaran tentang manajemen waktu dan etos kerja, di mana pekerjaan duniawi harus disusul dengan ibadah. Sayyid Quthb menekankan bahwa hidup seorang muslim harus diisi dengan perjuangan dan ibadah yang tak terputus.