Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Celaan terhadap manusia yang memilih jalan mudah, yaitu mengikuti hawa nafsu, daripada jalan taqwa yang sulit.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Fa laqtahamal 'aqabah" (dia tidak menempuh jalan mendaki) adalah celaan terhadap manusia yang enggan memilih jalan kebaikan yang penuh **rintangan** (*al-'aqabah*). Ibnu Katsir menerangkan bahwa *al-'aqabah* adalah jalan yang mendaki dan sulit, melambangkan amal shaleh yang membutuhkan perjuangan. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah kontras dengan *kabad* (susah payah) yang harusnya dialami dalam ketaatan. Al-Baidhawi menguraikan bahwa rintangan ini adalah melawan hawa nafsu dan kesenangan dunia. Al-Alusi menekankan bahwa manusia enggan berkorban untuk akhirat, meskipun berkorban untuk dunia (ayat 6). Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan jalan mendaki sebagai jalan jihad dan pengorbanan yang berat.