Sesungguhnya Dia (Allah) benar-benar berkuasa untuk mengembalikannya (menghidupkannya kembali).
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Innahū ‘alā raj‘ihī laqādir" adalah **kesimpulan** dari perenungan penciptaan: sesungguhnya Allah **Mahakuasa untuk mengembalikan** (*raj’ihī*) manusia setelah mati, yaitu **membangkitkannya kembali**. Ibnu Katsir menerangkan bahwa Allah yang mampu menciptakan dari mani yang lemah, tentu lebih mampu menghidupkan kembali dari tulang belulang. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah penegasan tentang Hari Kebangkitan. Al-Baidhawi menguraikan bahwa kekuasaan Allah mencakup penciptaan awal dan penciptaan kedua. Al-Alusi menekankan bahwa tidak ada yang mustahil bagi kekuasaan Allah. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan ayat ini sebagai inti dari risalah: kebangkitan setelah kematian.