IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Al-Mutaffifin Ayat 13

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Al-Mutaffifin Ayat 13

13 Surah Al-Mutaffifin Ayat 13 ⬇️
اِذَا تُتْلٰى عَلَيْهِ اٰيٰتُنَا قَالَ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَۗ
📘 Cara Baca:
iżā tutlā 'alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn
Arti Terjemahan Indonesia:
yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berkata, “Itu adalah dongeng orang-orang dahulu.”
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
إذا
Apabila
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Ẓarf Zamān (Syarat)
Kedudukan: Ẓarf
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Keterangan waktu/syarat.
Akar Kata: إ ذ ا
تتلى
dibacakan
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Muḍāri' Majhūl
Kedudukan: Fi'il Syarat
I'rab & Tanda: Marfu' dengan Dhommah Muqaddarah
Penjelasan: Fi'il Syarat.
Akar Kata: ت ل و
عليه
kepadanya
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Jār Majrūr
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Jār (عَلَى) dan Majrūr (هِ).
Akar Kata: ع ل و - ه و
آياتنا
ayat-ayat Kami
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Jamak Muannats Sālim
Kedudukan: Nā'ibul Fā'il
I'rab & Tanda: Marfu' dengan Dhommah
Penjelasan: Nā'ibul Fā'il dari تُتْلَىٰ. Nūnā (نَا) Muḍāf Ilaih.
Akar Kata: ء ا ي - ن ا
قال
ia berkata
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Māḍi
Kedudukan: Jawab Syarat (Majzum Maḥallan)
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Jawab Syarat. Fa'ilnya Dhomir Mustatir (هو).
Akar Kata: ق و ل
أساطير
dongengan
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Jamak Taksir
Kedudukan: Khobar Muqaddam
I'rab & Tanda: Marfu' dengan Dhommah
Penjelasan: Khobar Muqaddam dari Mubtada' yang dihapus.
Akar Kata: س ط ر
الأولين
orang-orang terdahulu
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Jamak Muzakkar Sālim
Kedudukan: Muḍāf Ilaih
I'rab & Tanda: Majrur dengan Yā' (ي)
Penjelasan: Muḍāf Ilaih dari أَسَٰطِيرُ.
Akar Kata: أ و ل
🔤 Analisis Ilal & Idgham (Morfologi):
Fiil • تُتْلَى • Shorof
تُتْلَى berasal dari akar kata ت ل و. Bentuk aslinya adalah تُتْلَوُ, merupakan Fiil Naqish Wāwiy.

➡️ Mekanisme: Ibdāl

➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.

📝 Penjelasan: Iskān dan Ibdāl: Huruf wāw (و) disukunkan (Iskān) lalu diubah menjadi alif (ا) karena didahului fathah.
Isim • آيَاتُنَا • Shorof
آيَاتُنَا berasal dari akar kata أ و ي. Bentuk aslinya adalah آوَايَاتُنَا, merupakan Isim Ajwaf Wāwiy.

➡️ Mekanisme: Ibdāl

➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.

📝 Penjelasan: Ibdāl: Huruf wāw (و) di tengah kata diubah menjadi alif (ا) karena berharakat dan didahului fathah.
Fiil • قَالَ • Shorof
قَالَ berasal dari akar kata ق و ل. Bentuk aslinya adalah قَوَلَ, merupakan Fiil Ajwaf Wāwiy.

➡️ Mekanisme: Ibdāl

➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.

📝 Penjelasan: Ibdāl: Huruf wāw (و) di tengah kata diubah menjadi alif (ا) karena berharakat dan didahului fathah.
Isim • الْأَوَّلِينَ • Shorof
الْأَوَّلِينَ berasal dari akar kata أ و ل. Bentuk aslinya adalah أَوْوَلِينَ, merupakan Isim Ajwaf Wāwiy.

➡️ Mekanisme: Ibdāl

➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.

📝 Penjelasan: Ibdāl: Huruf wāw (و) yang berdekatan dan harakatnya berbeda diubah menjadi Hamzah dan diidghamkan (Kasus Tashrif Awali).
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Bayan - Kinayah
Ucapan **أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ (asāṭīrul-awwalīn/dongeng orang-orang dahulu)** adalah *Kinayah* tentang penolakan total dan penghinaan mereka terhadap wahyu Allah.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "Itu adalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu."

Penjelasan Detail:

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Idzā tutlā ‘alaihi āyātunā qāla asāṭīrul-awwalīn" adalah ciri lain *mu’tadin atṣīm*: **apabila dibacakan ayat-ayat Kami, ia berkata, "Itu adalah dongeng-dongeng orang-orang dahulu"**. Ibnu Katsir menerangkan bahwa mereka menolak Al-Qur’an dan menuduhnya sebagai legenda lama. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah penghinaan terhadap wahyu Allah. Al-Baidhawi menguraikan bahwa tuduhan ini adalah cara mereka menghindari kebenaran. Al-Alusi menekankan bahwa penolakan ini menunjukkan kesombongan intelektual. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan *asāṭīrul-awwalīn* sebagai ungkapan penghinaan tertinggi terhadap risalah Ilahi.