IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Al-Mutaffifin Ayat 10

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Al-Mutaffifin Ayat 10

10 Surah Al-Mutaffifin Ayat 10 ⬇️
وَيْلٌ يَّوْمَىِٕذٍ لِّلْمُكَذِّبِيْنَۙ
📘 Cara Baca:
wailuy yauma`iżil lil-mukażżibīn
Arti Terjemahan Indonesia:
Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan!
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
ويل
Celakalah
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Maṣdar
Kedudukan: Mubtada' Muakhkhar
I'rab & Tanda: Marfu' dengan Dhommah
Penjelasan: Mubtada' yang diakhirkan. Khobar Muqaddamnya dihapus.
Akar Kata: و ي ل
يومئذ
pada hari itu
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Ẓarf Zamān
Kedudukan: Muḍāf Ilaih
I'rab & Tanda: Majrur dengan Kasrah
Penjelasan: Ẓarf Zamān. Iḍh (إِذٍ) Muḍāf Ilaih.
Akar Kata: ي و م - أ ذ ا
ل
bagi
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Jār Majrūr
I'rab & Tanda: Majrur dengan Yā' (ي)
Penjelasan: Lām (لِ) Jarr. Jār Majrūr sebagai Khobar Muqaddam.
Akar Kata: ل - ك ذ ب
المكذبين
orang-orang yang mendustakan
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Isim Fā'il, Jamak Muzakkar Sālim
Kedudukan: Isim Majrūr
I'rab & Tanda: Majrur dengan Yā' (ي)
Penjelasan: Isim Majrūr.
Akar Kata: ك ذ ب
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Ma'ani - Duʻā` Bi al-Lafẓ al-Khobar wa Taʻmīm
Pengulangan **وَيْلٌ (Wailun/Celakalah)** sebagai *Duʻā` Bi al-Lafẓ al-Khobar*. Kata **الْمُكَذِّبِينَ (al-mukadzdzibīn/orang-orang yang mendustakan)** adalah *Taʻmīm* (generalisasi) bagi semua orang yang mendustakan, termasuk Al-Muṭaffifīn.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan.

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Wailun yawma’idzil-lil-mukadzdzibīn" adalah pengulangan ancaman **celaka** (*wailun*) pada Hari Kiamat bagi **orang-orang yang mendustakan**. Ath-Thabari menerangkan bahwa yang didustakan adalah Hari Kebangkitan dan ajaran Nabi ﷺ. Al-Qurthubi menambahkan bahwa kecurangan (ayat 1) berakar pada kedustaan (ayat 10). Al-Baidhawi menguraikan bahwa kedustaan adalah dosa yang menghubungkan mereka dengan *Sijjin*. Al-Alusi menekankan bahwa celaka ini adalah konsekuensi dari penolakan kebenaran. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan pengulangan *Wailun* untuk menggetarkan hati.