Celakalah pada hari itu, bagi orang-orang yang mendustakan.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Wailun yawma’idzil-lil-mukadzdzibīn" adalah pengulangan ancaman **celaka** (*wailun*) pada Hari Kiamat bagi **orang-orang yang mendustakan**. Ath-Thabari menerangkan bahwa yang didustakan adalah Hari Kebangkitan dan ajaran Nabi ﷺ. Al-Qurthubi menambahkan bahwa kecurangan (ayat 1) berakar pada kedustaan (ayat 10). Al-Baidhawi menguraikan bahwa kedustaan adalah dosa yang menghubungkan mereka dengan *Sijjin*. Al-Alusi menekankan bahwa celaka ini adalah konsekuensi dari penolakan kebenaran. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan pengulangan *Wailun* untuk menggetarkan hati.