Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Falyanẓuril-insānu ilā ṭa’āmih" adalah ajakan untuk merenungkan nikmat Allah: **maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya** (*ṭa’āmih*). Ath-Thabari menerangkan bahwa perhatian ini adalah pada bagaimana makanan itu diciptakan oleh Allah. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah bukti kekuasaan dan kasih sayang Allah. Al-Baidhawi menguraikan bahwa memperhatikan makanan adalah cara untuk mengenal Sang Pencipta. Al-Alusi menekankan bahwa makanan adalah kebutuhan esensial yang disediakan Allah. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan *ṭa’āmih* sebagai contoh nyata ketergantungan manusia pada alam dan Allah.