IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Abasa Ayat 24

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Abasa Ayat 24

24 Surah Abasa Ayat 24 ⬇️
فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ ۙ
📘 Cara Baca:
falyanẓuril-insānu ilā ṭa'āmih
Arti Terjemahan Indonesia:
Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
ف
Maka
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Isti'nāf dan Lām Amr
I'rab & Tanda: Mabni atas Kasrah
Penjelasan: Fā' Isti'nāf. Lām (ل) Amr.
Akar Kata: ف - ل - ن ظ ر
لينظر
hendaklah ia melihat
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Muḍāri'
Kedudukan: Fi'il Muḍāri' Majzum
I'rab & Tanda: Majzum dengan Sukun
Penjelasan: Fa'ilnya Dhomir Mustatir (هو).
Akar Kata: ن ظ ر
الإنسان
manusia
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Mufrad, Ma'rifat
Kedudukan: Fā'il
I'rab & Tanda: Marfu' dengan Dhommah
Penjelasan: Fā'il dari يَنظُرِ.
Akar Kata: أ ن س
إلى
kepada
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Jarr
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Huruf Jarr.
Akar Kata: أ ل ي
طعامه
makanannya
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Mufrad, Ma'rifat
Kedudukan: Isim Majrūr
I'rab & Tanda: Majrur dengan Kasrah
Penjelasan: Hā' (هِ) Muḍāf Ilaih.
Akar Kata: ط ع م - ه و
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Ma'ani - Amr Iṣṭilāḥī wa Fā` al-Jazā`iyyah
Huruf **فَ (Fa/Maka)** berfungsi sebagai *Fā` al-Jazā`iyyah* (sebab-akibat), setelah manusia dikecam, ia diperintahkan untuk merenung. **فَلْيَنظُرِ (Fal-yanẓuril/Hendaklah memperhatikan)** adalah *Amr Iṣṭilāḥī* (perintah dalam konteks anjuran) untuk ber- *Istidlāl* (argumentasi) melalui rezeki.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Falyanẓuril-insānu ilā ṭa’āmih" adalah ajakan untuk merenungkan nikmat Allah: **maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya** (*ṭa’āmih*). Ath-Thabari menerangkan bahwa perhatian ini adalah pada bagaimana makanan itu diciptakan oleh Allah. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah bukti kekuasaan dan kasih sayang Allah. Al-Baidhawi menguraikan bahwa memperhatikan makanan adalah cara untuk mengenal Sang Pencipta. Al-Alusi menekankan bahwa makanan adalah kebutuhan esensial yang disediakan Allah. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan *ṭa’āmih* sebagai contoh nyata ketergantungan manusia pada alam dan Allah.