IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat An-Naba Ayat 6

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat An-Naba Ayat 6

6 Surah An-Naba Ayat 6 ⬇️
اَلَمْ نَجْعَلِ الْاَرْضَ مِهٰدًاۙ
📘 Cara Baca:
a lam naj'alil-arḍa mihādā
Arti Terjemahan Indonesia:
Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan,
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
الم
Bukankah
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Istifhām dan Jazm
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Hamzah (أ) Istifhām. Lam (لَمْ) Jazm.
Akar Kata: أ - ل م م
نجعل
Kami telah menjadikan
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Muḍāri'
Kedudukan: Fi'il Muḍāri'
I'rab & Tanda: Majzum dengan Sukun
Penjelasan: Fa'ilnya Dhomir Mustatir (نحن).
Akar Kata: ج ع ل
الارض
bumi
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Mufrad, Ma'rifat
Kedudukan: Maf'ūl Bih Awal
I'rab & Tanda: Manshub dengan Fathah
Penjelasan: Maf'ūl Bih Awal.
Akar Kata: أ ر ض
مهدا
sebagai hamparan
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Mufrad, Nakirah
Kedudukan: Maf'ūl Bih Kedua
I'rab & Tanda: Manshub dengan Fathah
Penjelasan: Maf'ūl Bih Kedua.
Akar Kata: م ه د
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Ma'ani - Istifhām Taqrīrī wa Istidlāl
Ayat 6-16 adalah *Istidlāl* (argumentasi) untuk membuktikan kekuasaan Allah menciptakan Kiamat. Pertanyaan **أَلَمْ نَجْعَلِ الْأَرْضَ مِهَادًا (Alam najʻalil-arḍa mihādā/Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan?)** adalah *Istifhām Taqrīrī* (penetapan), yang maknanya **Sungguh, Kami telah menjadikannya**, sebagai bukti kekuasaan Allah.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan?

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Alam naj‘alil-arḍa mihādā" adalah awal bukti kekuasaan Allah: **Bukankah Kami telah menjadikan bumi sebagai hamparan** (*mihādā*)? Ath-Thabari menerangkan bahwa *mihādā* berarti tempat tinggal yang nyaman dan mudah. Al-Qurthubi menambahkan bahwa bumi dihampar agar manusia dapat hidup di atasnya dengan tenang. Al-Baidhawi menguraikan bahwa *mihādā* menunjukkan bumi yang dilunakkan agar mudah digarap. Al-Alusi menekankan bahwa Allah yang mampu menciptakan kenyamanan ini pasti mampu membangkitkan. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan *mihādā* sebagai sarana hidup yang disediakan Allah.