Sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Innahum kānū lā yarjūna ḥisābā" adalah alasan azab mereka: **Sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan** (*ḥisābā*). Ibnu Katsir menerangkan bahwa mereka tidak percaya akan adanya Hari Pembalasan dan tidak beramal karenanya. Al-Qurthubi menambahkan bahwa tidak mengharapkan hisab adalah ciri utama kekufuran. Al-Baidhawi menguraikan bahwa penolakan mereka terhadap hisab membuat mereka berani berbuat dosa. Al-Alusi menekankan bahwa ini adalah kesalahan fatal yang mereka lakukan di dunia. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan *lā yarjūna ḥisābā* sebagai sikap hidup tanpa tanggung jawab spiritual.