Dan Kami menjadikan pelita yang amat terang (matahari).
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Wa ja‘alnā sirājaw wahhājā" berarti **Dan Kami menjadikan pelita yang amat terang** (*sirājaw wahhājā*) **(matahari)**. Ibnu Katsir menerangkan bahwa *sirāj* (pelita) dan *wahhāj* (amat terang/panas) adalah deskripsi matahari sebagai sumber cahaya dan panas. Al-Qurthubi menambahkan bahwa matahari adalah karunia Allah yang vital. Al-Baidhawi menguraikan bahwa cahaya matahari memungkinkan aktivitas di siang hari. Al-Alusi menekankan bahwa Allah mengatur panas dan cahaya. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan *sirājaw wahhājā* sebagai sumber energi utama di alam semesta.