IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Al-Gasyiyah Ayat 20

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Al-Gasyiyah Ayat 20

20 Surah Al-Gasyiyah Ayat 20 ⬇️
وَاِلَى الْاَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْۗ
📘 Cara Baca:
wa ilal-arḍi kaifa suṭiḥat
Arti Terjemahan Indonesia:
Dan bumi bagaimana dihamparkan?
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
و
dan
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf 'Aṭaf
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Huruf 'Aṭaf.
Akar Kata: و
إلى
kepada
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Jarr
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Huruf Jarr.
Akar Kata: أ ل ي
الأرض
bumi
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Mufrad, Ma'rifat
Kedudukan: Isim Majrūr
I'rab & Tanda: Majrur dengan Kasrah
Penjelasan: Isim Majrūr.
Akar Kata: أ ر ض
كيف
bagaimana
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Istifhām
Kedudukan: Ḥāl
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Keterangan keadaan.
Akar Kata: ك ي ف
سطحت
ia dihamparkan
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Māḍi Majhūl
Kedudukan: Fi'il Māḍi Majhūl
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Tā' (تْ) Tā'u Ta'nīts, Nā'ibul Fā'il Dhomir Mustatir (هي/الأرض).
Akar Kata: س ط ح
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Ma'ani - Istidlāl
Rangkaian *Istidlāl* (Unta, Langit, Gunung, Bumi) ini mengarahkan kesimpulan: Dzat yang mampu menciptakan semua ini pasti mampu membangkitkan dan membalas.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan? Ajakan untuk merenungkan bumi yang dijadikan tempat hidup yang nyaman.

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Wa ilal arḍi kaifa suṭiḥat" adalah ajakan untuk merenungkan **bumi, bagaimana ia dihamparkan** (*suṭiḥat*) agar manusia dapat hidup di atasnya. Ath-Thabari menerangkan bahwa penghamparan bumi adalah nikmat besar yang memudahkannya untuk dijadikan tempat tinggal dan bercocok tanam. Al-Qurthubi menambahkan bahwa bumi yang terhampar menunjukkan kemurahan Allah. Al-Baidhawi menguraikan bahwa kerendahan bumi adalah kontras dengan ketinggian langit. Al-Alusi menekankan bahwa perenungan alam semesta harusnya menghasilkan keimanan yang sempurna. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan bumi yang terhampar sebagai kesiapan Allah untuk menerima amal manusia.