Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya,
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Wa ammā man ūtiya kitābahū warā’a ẓahrih" adalah deskripsi golongan kedua: **orang yang diberikan catatan amalnya dari belakang punggungnya**. Ath-Thabari menerangkan bahwa ini adalah isyarat bahwa tangan mereka diikat ke belakang dan catatan amal dilemparkan dari arah belakang. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah tanda kehinaan dan ketidakberuntungan. Al-Baidhawi menguraikan bahwa mereka tidak mau menghadapinya karena malu. Al-Alusi menekankan bahwa *warā’a ẓahrih* adalah simbol penolakan mereka terhadap kebenaran di dunia. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan ini sebagai nasib jiwa yang menolak untuk bertanggung jawab.