IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Al-Insyiqaq Ayat 10

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Al-Insyiqaq Ayat 10

10 Surah Al-Insyiqaq Ayat 10 ⬇️
وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَاۤءَ ظَهْرِهٖۙ
📘 Cara Baca:
wa ammā man ụtiya kitābahụ warā`a ẓahrih
Arti Terjemahan Indonesia:
Dan adapun orang yang catatannya diberikan dari sebelah belakang,
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
ف
maka
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Jawāb
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Fā' Jawāb (jawab Ammā/Syarat).
Akar Kata: ف
سوف
kelak
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Istiqbāl
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Huruf Istiqbāl.
Akar Kata: س و ف
يدعو
ia akan menyeru
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Muḍāri'
Kedudukan: Fi'il Muḍāri'
I'rab & Tanda: Marfu' dengan Dhommah Muqaddarah
Penjelasan: Fa'ilnya Dhomir Mustatir (هو).
Akar Kata: د ع و
ثبورا
kecelakaan
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Maṣdar
Kedudukan: Maf'ūl Bih
I'rab & Tanda: Manshub dengan Fathah
Penjelasan: Objek dari يَدْعُوا۟.
Akar Kata: ث ب ر
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Badi' - Muqābalah
Ayat ini adalah *Muqābalah* (kontras) dengan Ayat 7: Menerima catatan dari **belakang punggung** (*Kinayah* tentang kehinaan dan penolakan) vs. dari **sebelah kanan**.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang punggungnya,

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Wa ammā man ūtiya kitābahū warā’a ẓahrih" adalah deskripsi golongan kedua: **orang yang diberikan catatan amalnya dari belakang punggungnya**. Ath-Thabari menerangkan bahwa ini adalah isyarat bahwa tangan mereka diikat ke belakang dan catatan amal dilemparkan dari arah belakang. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ini adalah tanda kehinaan dan ketidakberuntungan. Al-Baidhawi menguraikan bahwa mereka tidak mau menghadapinya karena malu. Al-Alusi menekankan bahwa *warā’a ẓahrih* adalah simbol penolakan mereka terhadap kebenaran di dunia. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan ini sebagai nasib jiwa yang menolak untuk bertanggung jawab.