(Yaitu) pada hari ketika seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain. Dan segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Yawma lā tamliku nafsul-li nafsin syai’ā; wal-amru yawma’idzil-lillāh" adalah jawaban definitif: pada hari itu **seseorang tidak berdaya sedikit pun untuk menolong orang lain**, dan **segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah**. Ibnu Katsir menerangkan bahwa *lā tamliku* berarti tidak ada yang memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk menolong. Al-Qurthubi menambahkan bahwa ketiadaan penolong menunjukkan ketidakberdayaan total manusia. Al-Baidhawi menguraikan bahwa kepastian kekuasaan Allah pada hari itu adalah tujuan dari seluruh peringatan. Al-Alusi menekankan bahwa *wal-amru yawma’idzil-lillāh* adalah penutup yang agung. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan ayat ini sebagai penegasan bahwa hanya amal yang akan menolong, dan kekuasaan mutlak hanya milik Allah.