IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Abasa Ayat 5

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Abasa Ayat 5

5 Surah Abasa Ayat 5 ⬇️
اَمَّا مَنِ اسْتَغْنٰىۙ
📘 Cara Baca:
ammā manistagnā
Arti Terjemahan Indonesia:
Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (pembesar-pembesar Quraisy),
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
أما
Adapun
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Syarṭ wa Tafṣīl
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Huruf syarat dan perincian.
Akar Kata: أ م ا
من
orang yang
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Mauṣūl
Kedudukan: Mubtada'
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Mubtada'.
Akar Kata: م ن
استغنى
merasa dirinya cukup
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Māḍi
Kedudukan: Ṣilah Mauṣūl
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah Muqaddarah
Penjelasan: Fa'ilnya Dhomir Mustatir (هو).
Akar Kata: غ ن ي
🔤 Analisis Ilal & Idgham (Morfologi):
Fiil • اسْتَغْنَى • Shorof
اسْتَغْنَى berasal dari akar kata غ ن ي. Bentuk aslinya adalah اسْتَغْنَيَ, merupakan Fiil Naqish Yā'iy.

➡️ Mekanisme: Ibdāl

➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.

📝 Penjelasan: Ibdāl: Huruf yā' (ي) di akhir kata kerja diubah menjadi alif (ا) karena didahului fathah.
Fiil • اسْتَغْنَى • Shorof
اسْتَغْنَى berasal dari akar kata غ ن ي. Bentuk aslinya adalah اسْتَغْنَيَ, merupakan Fiil Naqish Yā'iy.

➡️ Mekanisme: Ibdāl

➡️ Bertujuan untuk memperingan dan mempermudah pelafalan kata dalam bahasa Arab tanpa mengubah makna aslinya.

📝 Penjelasan: Ibdāl: Huruf yā' (ي) di akhir kata kerja diubah menjadi alif (ا) karena didahului fathah.
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Badi' - Muqābalah
Ayat 5-7 adalah *Muqābalah* (kontras) dengan Ayat 3-4. Kontras antara **yang membersihkan diri** (*yazzakkā*) vs **yang merasa serba cukup** (*is-taghnā*) tanpa butuh nasihat.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup (tidak butuh nasehat),

Penjelasan Detail:

Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Ammā manistaghnā" adalah kontras dengan orang buta: **adapun orang yang merasa dirinya serba cukup** (*manistaghnā*), yaitu pembesar Quraisy yang sombong. Ibnu Katsir menerangkan bahwa mereka merasa kaya dan tidak butuh nasehat agama. Al-Qurthubi menambahkan bahwa kekayaan dan status membuat mereka enggan tunduk. Al-Baidhawi menguraikan bahwa kesombongan inilah yang menutup hati mereka dari kebenaran. Al-Alusi menekankan bahwa kesombongan dalam hati adalah hambatan terbesar bagi hidayah. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan *istaghnā* sebagai perasaan tidak memerlukan bimbingan agama.