Untuk kesenangan kamu dan untuk binatang-binatang ternakmu.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Matā’al lakum wa li an’āmikum" adalah tujuan penciptaan semua itu: **untuk kesenangan kamu** (*matā’al lakum*) **dan untuk binatang-binatang ternakmu** (*li an’āmikum*). Ath-Thabari menerangkan bahwa *matā’* adalah kenikmatan sementara di dunia. Al-Qurthubi menambahkan bahwa semua rezeki ini adalah bukti kebesaran Allah. Al-Baidhawi menguraikan bahwa manusia wajib bersyukur atas rezeki ini dan tidak kufur. Al-Alusi menekankan bahwa nikmat yang berlimpah ini seharusnya mendorong manusia untuk menaati Allah. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan *matā’* sebagai ujian sementara yang diberikan oleh *Al-Karīm*.