IrabQuran.com

ID
Thumbnail Surat Al-Fajr Ayat 24

Belajar I'rab Al-Qur'an Surat Al-Fajr Ayat 24

24 Surah Al-Fajr Ayat 24 ⬇️
يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِيْ قَدَّمْتُ لِحَيَاتِيْۚ
📘 Cara Baca:
yaqụlu yā laitanī qaddamtu liḥayātī
Arti Terjemahan Indonesia:
Dia berkata, “Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.”
Klik atau sorot box/kotak di bawah ini untuk mengetahui i'rab al-qur'an per kata
📝 Analisis I'rab Per Kata (Infleksi):
يقول
Dia berkata
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Muḍāri'
Kedudukan: Fi'il Muḍāri'
I'rab & Tanda: Marfu' dengan Dhommah
Penjelasan: Fa'ilnya Dhomir Mustatir (Dia/manusia).
Akar Kata: ق و ل
يا
alangkah baiknya
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Nidā' / Tanbīh
I'rab & Tanda: Mabni atas Sukun
Penjelasan: Yā' (يَا) Tanbīh (peringatan).
Akar Kata: ي ا
ليتني
sekiranya aku
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Taukīd wa Naṣb
I'rab & Tanda: Mabni atas Fathah
Penjelasan: Laita (لَيْتَ) Taukīd. Nūn (نِ) Nūn Wiqāyah. Yā'ul Mutakallim Isim Laita.
Akar Kata: ل ي ت - ن
قدمت
telah mengerjakan
Fi'il
Kategori: Fi'il
Bentuk Kata: Māḍi
Kedudukan: Khobar Laita
I'rab & Tanda: Mabni atas Dhommah
Penjelasan: Tā' (تُ) Fā'il.
Akar Kata: ق د م - أ ن ا
ل
untuk
Huruf
Kategori: Huruf
Bentuk Kata: N/A
Kedudukan: Ḥarf Jarr dan Isim
I'rab & Tanda: Majrur dengan Kasrah Muqaddarah
Penjelasan: Lām (لِ) Jarr. Isim Majrūr.
Akar Kata: ل - ح ي ي
حياتي
hidupku
Isim
Kategori: Isim
Bentuk Kata: Maṣdar
Kedudukan: Isim Majrūr
I'rab & Tanda: Majrur dengan Kasrah Muqaddarah
Penjelasan: Isim Majrūr. Yā' (ي) Muḍāf Ilaih.
Akar Kata: ح ي ي - ي
✨ Analisis Balaghah (Retorika) :
Ma'ani - Tamannī
Ucapan manusia **يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ (yā laitanī qaddamtu/alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan)** adalah *Tamannī* (pengandaian yang mustahil terjadi), menunjukkan penyesalan yang ekstrem.
📘
Tafsir Mu'tabar
Powered by Islamic Sources
Ringkasan Tafsir:

Pada hari itu, manusia teringat akan (dosa-dosa)nya, tetapi tidak berguna lagi ingatan itu baginya.

Penjelasan Detail:

Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa "Yawma-idzin yatadzakkarul insānu wa annā lahudz dzikrā" berarti **manusia teringat** akan dosa dan kesalahannya, tetapi **ingatan itu tidak lagi berguna** untuk bertobat. Ath-Thabari menerangkan bahwa ingatan ini datang pada saat ajal atau di Padang Mahsyar. Al-Qurthubi menambahkan bahwa *annā lahudz dzikrā* berarti bagaimana mungkin ingatan itu berguna lagi, menunjukkan penyesalan yang terlambat. Al-Baidhawi menguraikan bahwa penyesalan itu datang setelah kesempatan beramal habis. Al-Alusi menekankan bahwa ingatan ini adalah siksaan mental tersendiri. Sayyid Quthb (Fi Zhilal) menafsirkan ingatan ini sebagai kesadaran yang datang setelah terlambat.