Tiupan kedua mengiringinya.
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa "Tatba‘ur-rādifah" berarti **tiupan kedua mengiringinya** (*rādifah*), yaitu tiupan sangkakala kedua yang membangkitkan kembali. Ibnu Katsir menerangkan bahwa *rādifah* adalah tiupan yang menyusul setelah *rājifah*, untuk kebangkitan. Al-Qurthubi menambahkan bahwa *rādifah* adalah tiupan yang menghidupkan kembali manusia. Al-Baidhawi menguraikan bahwa antara tiupan pertama dan kedua ada jeda waktu. Al-Alusi menekankan bahwa urutan tiupan ini membuktikan kepastian kebangkitan. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menafsirkan *rādifah* sebagai pemulihan kembali kehidupan.