Kemudian, dia sangat menginginkan agar Aku menambah (nikmat kepadanya).
Imam **Ath-Thabari** menjelaskan bahwa "Tsumma yaṭma‘u an azīd" adalah wujud **ketidakpuasan dan keserakahan** Al-Walid. Setelah semua nikmat (harta dan anak), ia masih tamak. **Ibnu Katsir** menafsirkan *ṭam‘u* (sangat menginginkan) muncul karena ia menggunakan harta untuk menentang kebenaran.
---
**Menurut Al-Qurthubi**, ia menginginkan kenikmatan Surga tanpa perlu beriman. **Al-Baidhawi** menafsirkan bahwa tamaknya adalah ingin kekuasaan Nabi Muhammad ﷺ. **Al-Alusi** menyatakan ketamakan ini adalah pangkal dari penolakannya. **Hamka (Al-Azhar)** melihat ini sebagai sifat manusia yang tidak pernah puas.